Jumat, 17 Mei 2013

PEMBERIAN SENYAWA KIMIA



PEMBERIAN SENYAWA KIMIA 


Diantara cara-cara pengawetan tersebut di atas pemberian senyawa kimia sering
dipakai, walaupun kadang-kadang terjadi kesalahan. Cara yang paling sederhana dan
dapat dipraktikkan ialah pemberian garam, asam dan gula. Tidak sedikit bahan pangan
setelah perlakuan tadi kemudian dikeringkan, atau diasap.
Perlakuan khusus dengan  senyawa kimia, biasa pula akan  berdampak pada
hasil yang diperoleh. Dampak yang diharapkan adalah  sebagai berikut:
1. Bahan kimia yang dapat meningkatkan hasil bahan dasar. Contohnya ialah pestisida,
dan pemupukan. Pestisida akan hama, baik dilapangan maupun digudang.
Pemupukan akan meningkatkan hasil panen;
2. Bahan kimia yang mampu mencegah kerusakan. Pandangan ini berdasarkan
kenyataan dilapangan bahwa kerusakan pangan karena kegiatan mikrobia, aktivitas
enzim, dan reaksi biokimia. Pemberian senyawa penghambat akan dapat mencegah
proses pengerusakan tersebut. Oksidasi minyak akan menyebabkan minyak menjadi
tengik, sehingga ditolak konsumen. Pemberian antioksidant akan mencegah oksidasi
tersebut. Pemberian vitamin C dan isoaskorbat akan mencgah kerusakan warna pada
berbagai produk yang disimpan dalam bentuk dingin. Demikian juga pemberian
”chelating agent” untuk mengikat berbagai unsur yang memacu oksidasi. 
3. Bahan kimia dapat juga mempengaruhi cita rasa pada bahan pangan seperti
”essence”.
4. Bahan kimia yang mampu memperbaiki kenampan pada pangan, seperti pada roti.
Pengunaan senyawa khlorin dan pemucat telah banyak dipakai;
5. Bahan kimia yang dapat merubah atau memperbaiki tekstur pangan. Contohnya ialah
pemberian  monoglyserida dan digliserida pada adonan roti.
6. Bahan kimia yang mampu meningkatkan nilai gizi pangan, seperti pemberian vitamin
dan mineral. Saat penggilingan banyak kehilangan vitamin dan mineral untuk itu perlu
ditambahkan pada bahan pangan agar bila dikonsumsi tidak meyebabkan
kekurangan gizi. Pada saat sekarang ini  konsumen beras memperolehnya dari heler
baik yang mobil atau tempat tetap. Heler ini bekerja memecah kulit gabah, kemudian
kulit ari yang tertinggal dikikis. Lapisan aleuron yang kaya akan vitamin dan berbagai
garam mineral tidak ada lagi. Konsumsi beras jenis ini dalam jumlah yang banyak,
tanpa disertai pangan lain akan menyebabkan kekurangan berbagai vitamin, seperti
vitamin B1. Kekurangan vitamin ini akan meneyebabkan pertumbuhan pada bayi
terhambat, dan kelak akan menjadi anak yang kurang pintar. Masalah ini harus
diatasi dengan pemberian gizi berimbang;

7. Bahan kimia yang dipergunakan pada prosesing makanan. Bahan yang akan
difermentasi haruslah diberi perlakuan khusus.
8. Bahan kimia yang mempermudah pengemasan. Senyawa kimia diberikan pada 
bahan pengemas sehingga menjadi lebih elastis. Bahan yang elastis akan dapat
dibentuk sesuai keinginan.
Pada pemberian senyawa kimia haruslah diingat efek yang dapat ditimbulkan dari
bahan kimia tersebut terhadap kesehatan manusia. Hendaknya dipergunakan senyawa
kimia sesuai dengan peraturan dan ketentuan pemakainannya. 

TEKNOLOGI PANGAN



TEKNOLOGI PANGAN 


Teknologi pangan dapat dimulai dari lapangan atau sawah, kalau diambil sebagai
contoh padi. Ladang atau tegalan untuk umbi-umbian dan kacang-kacangan. Teknologi
dapat juga dimulai dari pemilihan bibit serta cara pembibitan, kemudian penanaman serta
pemeliharaan. Pengertian ini tidak berlebihan karena pada setiap tingkat itu akan
menggunakan teknologi yang sesuai dengan peruntukannya. Tetapi yang umum ialah
sejak dipanen, pengolahan, sampai dihidangkan.
Penggunaan teknologi  pada setiap tingkat itu akan dapat diharapkan terjaminnya
hasil daripada tanpa penggunaan teknologi, serta hasil yang jauh lebih banyak. Istilah
terakhir ini memberikan pengertian bahwa penggunaan teknologi dalam produksi pangan
akan meningkatkan hasil, sehingga hasil lebih banyak yang dapat menjamin salah satu
faktor ketahanan pangan.
Teknologi pangan sangat erat hubungannya dengan terjaminnya mutu hasil.
Teknologi yang baik akan memperkecil kehilangan atau susut saat pengolahan. Pada
setiap tingkat pengolahan hendaknya dibarengi dengan kendali mutu, atau ”quality

control” sehingga terjamin bahwa hasil sesuai dengan mutu yang diharapkan.  Sebagai
salah satu contoh ialah dilapangan pada petanaman padi di sawah. Sebelum panen
sebidang tanah harus diawasi sehingga hasilnya nanti terjamin, yaitu tidak akan hadir 
gangguan yang disebabkan oleh berbagai hama dan penyakit.
Pada saat panenpun  demikian pula, hendaknya pengawasan mutu diperhatikan.
Pergunakanlah alat yang cocok untuk pemakaiannya, serta tempat yang bersih.
Menjemur gabah di jalan-jalan merupakan tindakan yang tidak akan menghasilkan gabah
yang terjamin mutunya. Gabah disimpan dengan kadar air yang rendah serta tempat
yang baik, bebas dari gangguan.
Tempat penyimpanan yang salah akan menyebabkan kerusakan pada bahan
pangan. Kerusakan tersebut antara lain karena (i). Makhluk hidup, seperti tikus,
serangga, jamur dan bakteri, karena akan memakan bahan pangan yang disimpan,
disamping menimbulkan kerugian karena kotoran, dan sisa-sisa bahan yang dimakan;
(ii). Aktivitas biokimia dalam bahan pangan tiu sendiri, seperti respirasi, terbentuknya
warna coklat serta timbulnya kelainan bau bahkan tengik; dan (iii). Kerusakan karena fisik
atau mekanis, antara lain terhimpitnya bahan  sehingga pecah, serta saat pemindahan
yang kurang hati-hati.
Ruangan penyimpanan akan mempengaruhi umur simpan bahan pangan yang
sekali gus akan mempengaruhi ketahanan pangan. Suhu, kelembaban dan komposisi
udara ruangan penyimpanan merupakan tiga faktor yang perlu diperhatikan. Cara
pengangkutan, pengemasan yang kurang hati-hati juga menyebabkan bahan cepat
rusak. 
Pengolahan bahan pangan dilaksanakan karena tiga alasan, yaitu (i). Menyiapkan
makanan untuk dihidangkan, (ii). Membuat hasil baru yang dikehendaki, baik dilihat dari
segi fisik maupun kandungan kimianya, termasuk pengayaaan akan zat gizi,  dan (iii).
Mengawetkan, mengemas dan menyimpan. Dari ketiga alasan tersebut yang erat
hubungannya dengan ketahanan pangan adalah yang ketiga. Pengawetan yang diikuti
dengan pengemasan yang memadai akan menyebabkan bahan tidak cepat rusak.
Sehubungan dengan tujuan pengawetan, maka dikenal enam cara utama, yaitu:
1. Pengurangan air dalam bahan pangan (pengeringan, dehidrasi, evaporasi, atau
pengentalan)
2. Pemanasan (blanching, pasteurisasi, dan sterilisasi)
3. Penggunaan suhu rendah (pendinginan, pembekuan)
4. Perlakuan kusus  (fermentasi, dan pemberian additif asam; gula, garam)
5. Pemberian senyawa kimia
6. Iradiasi