Jumat, 17 Mei 2013

TEKNOLOGI PANGAN



TEKNOLOGI PANGAN 


Teknologi pangan dapat dimulai dari lapangan atau sawah, kalau diambil sebagai
contoh padi. Ladang atau tegalan untuk umbi-umbian dan kacang-kacangan. Teknologi
dapat juga dimulai dari pemilihan bibit serta cara pembibitan, kemudian penanaman serta
pemeliharaan. Pengertian ini tidak berlebihan karena pada setiap tingkat itu akan
menggunakan teknologi yang sesuai dengan peruntukannya. Tetapi yang umum ialah
sejak dipanen, pengolahan, sampai dihidangkan.
Penggunaan teknologi  pada setiap tingkat itu akan dapat diharapkan terjaminnya
hasil daripada tanpa penggunaan teknologi, serta hasil yang jauh lebih banyak. Istilah
terakhir ini memberikan pengertian bahwa penggunaan teknologi dalam produksi pangan
akan meningkatkan hasil, sehingga hasil lebih banyak yang dapat menjamin salah satu
faktor ketahanan pangan.
Teknologi pangan sangat erat hubungannya dengan terjaminnya mutu hasil.
Teknologi yang baik akan memperkecil kehilangan atau susut saat pengolahan. Pada
setiap tingkat pengolahan hendaknya dibarengi dengan kendali mutu, atau ”quality

control” sehingga terjamin bahwa hasil sesuai dengan mutu yang diharapkan.  Sebagai
salah satu contoh ialah dilapangan pada petanaman padi di sawah. Sebelum panen
sebidang tanah harus diawasi sehingga hasilnya nanti terjamin, yaitu tidak akan hadir 
gangguan yang disebabkan oleh berbagai hama dan penyakit.
Pada saat panenpun  demikian pula, hendaknya pengawasan mutu diperhatikan.
Pergunakanlah alat yang cocok untuk pemakaiannya, serta tempat yang bersih.
Menjemur gabah di jalan-jalan merupakan tindakan yang tidak akan menghasilkan gabah
yang terjamin mutunya. Gabah disimpan dengan kadar air yang rendah serta tempat
yang baik, bebas dari gangguan.
Tempat penyimpanan yang salah akan menyebabkan kerusakan pada bahan
pangan. Kerusakan tersebut antara lain karena (i). Makhluk hidup, seperti tikus,
serangga, jamur dan bakteri, karena akan memakan bahan pangan yang disimpan,
disamping menimbulkan kerugian karena kotoran, dan sisa-sisa bahan yang dimakan;
(ii). Aktivitas biokimia dalam bahan pangan tiu sendiri, seperti respirasi, terbentuknya
warna coklat serta timbulnya kelainan bau bahkan tengik; dan (iii). Kerusakan karena fisik
atau mekanis, antara lain terhimpitnya bahan  sehingga pecah, serta saat pemindahan
yang kurang hati-hati.
Ruangan penyimpanan akan mempengaruhi umur simpan bahan pangan yang
sekali gus akan mempengaruhi ketahanan pangan. Suhu, kelembaban dan komposisi
udara ruangan penyimpanan merupakan tiga faktor yang perlu diperhatikan. Cara
pengangkutan, pengemasan yang kurang hati-hati juga menyebabkan bahan cepat
rusak. 
Pengolahan bahan pangan dilaksanakan karena tiga alasan, yaitu (i). Menyiapkan
makanan untuk dihidangkan, (ii). Membuat hasil baru yang dikehendaki, baik dilihat dari
segi fisik maupun kandungan kimianya, termasuk pengayaaan akan zat gizi,  dan (iii).
Mengawetkan, mengemas dan menyimpan. Dari ketiga alasan tersebut yang erat
hubungannya dengan ketahanan pangan adalah yang ketiga. Pengawetan yang diikuti
dengan pengemasan yang memadai akan menyebabkan bahan tidak cepat rusak.
Sehubungan dengan tujuan pengawetan, maka dikenal enam cara utama, yaitu:
1. Pengurangan air dalam bahan pangan (pengeringan, dehidrasi, evaporasi, atau
pengentalan)
2. Pemanasan (blanching, pasteurisasi, dan sterilisasi)
3. Penggunaan suhu rendah (pendinginan, pembekuan)
4. Perlakuan kusus  (fermentasi, dan pemberian additif asam; gula, garam)
5. Pemberian senyawa kimia
6. Iradiasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar