Jumat, 17 Mei 2013

PENGOLAHAN PANGAN DAN GIZI





    PENGOLAHAN  PANGAN DAN GIZI 


Bahan pangan, terutama pangan yang baru dipetik akan tetap melaksanakan
fungsi fisiologisnya antara lain seperti respirasi. Perubahan–perubahan pada bahan
pangan sebagian besar terjadi karena adanya reaksi kimia dalam bahan pangan karena
reaksi dari dalam bahan pangan itu sendiri atau akibat pengaruh lingkungan. Contoh
yang sering kita jumpai adalah: kalau kita memanen pisang, pisang kita tebang dalam
keadaan masih hijau (pisang sudah tua) jika kita biarkan begitu saja pisang tersebut akan
matang dengan sendirinya ditandai dengan perubahan warna pada kulit pisang menjadi
berwarna kuning, sedangkan pada tekstur buah akan menjadi lebih lunak dan berasa
manis. Kondisi tersebut adalah kondisi alami, keadaan tersebut disebabkan oleh reaksi
kimia dari dalam buah pisang itu sendiri, selain itu juga dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan seperti suhu yang akan memacu kematangan buah.
Pemanenan akan menyebabkan suplai yang melalui penyerapan  akar terputus.
Oleh karena itu akan cepat sekali rusak, yang dapat menyebabkan nilai gizinya
berkurang. Laju proses kerusakan akan dapat cepat atau lambat, tergantung pada
beberapa faktor. Kadar air yang tinggi pada bahan segar dinilai menyebabkan kerusakan
yang cepat. Kandungan air yang tinggi akan memacu proses biologis yang dapat
meneyebabkan kerusakan seperti pada sayuran dan daging. Berbeda dengan biji-bijian
yang dalam keadaan kering akan tahan terhadap kerusakan, bahkan dapat disimpan
sampai lebih daripada satu tahun.
Berbagai vitamin juga akan cepat rusak setelah dipanen, terutama vitamin C. 
Vitamin A akan cepat teroksidasi, begitu pula pada vitamin E. Vitamin D peka terhadap
oksigen dan cahaya.
Proses pengolahan itu sendiri akan dapat mengurangi nilai gizi bila dibandingkan
dengan keadaan segar. Makin banyak tingkat pengolahan nilai gizi akan semakin banyak
berkurang. Demikian pula kalau makin lama diolah. 
Reaksi enzimatis, serta perubahan kimia dalam bahan hasil pertanian merupakan
penyebab utama kerusakan. Mikrobia dianggap merupakan penyebab susut utama, baik
kualitas, maupun kuantitas  bahan hasil pertanian. Kegiatan enzimatis akan berlangsung
pada kandungan air yang tinggi, serta suhu yang cocok untuk kegiatan suatu enzim.
Reaksi kimia akan berlangsung pada kadar air yang tinggi. Faktor suhu sangat penting
dalam menyebabkan kerusakan pangan. Sesuai dengan hukum vant’ Hoff, bahwa
kenaikan suhu 10 °C akan menyebabkan reaksi berlipat dua kecepatannya, tetapi akibat
pengerusakannya bisa lebih, misalnya pada sayur dan buah-buahan  sampai 2,5 kali. 
Berdasarkan pola pikir di atas, maka langkah awal dalam pengawetan, yang juga
termasuk pengolahan bahan pangan hasil pertanian ialah memanipulasi keadaan sekitar
agar tidak cocok untuk ketiga penyebab utama di atas. Untuk dapat melakukan
pengolahan yang tepat terhadap suatu bahan pangan kita haruslah mengetahui
karakteristik dan sifat bahan pangan itu sendiri, terutama sifat kimia dari bahan.  
Suatu contoh mengapa gula lebih cepat larut pada air panas? pada dasarnya hal
itu disebabkan oleh sifat kelarutan padatan dalam cairan yang akan meningkat seiring
dengan peningkatan suhu; dan itu berlaku sebaliknya. Padatan akan semakin mudah
larut dalam pelarut yang memiliki temperatur yang lebih tinggi. Selain karena efek
kelarutan, temperatur yang tinggi berfungsi sebagai pemasok energi pelarutan yang
digunakan agar padatan larut dalam air. Sumber energi lain yang biasa Anda gunakan
sehari-hari tentunya ialah energi dari tangan Anda. Contoh tersebut sering kita jumpai
sehari-hari ketika kita membuat minuman panas dengan menambahkan gula di
dalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar