PENGOLAHAN PANGAN DAN GIZI |
|
Bahan pangan, terutama pangan yang baru dipetik akan tetap
melaksanakan
|
|
fungsi fisiologisnya antara lain seperti respirasi. Perubahan–perubahan
pada bahan
|
|
pangan sebagian besar terjadi karena adanya reaksi kimia dalam
bahan pangan karena
|
|
reaksi dari dalam bahan pangan itu sendiri atau akibat
pengaruh lingkungan. Contoh
|
|
yang sering kita jumpai adalah: kalau kita memanen pisang,
pisang kita tebang dalam
|
|
keadaan masih hijau (pisang sudah tua) jika kita biarkan
begitu saja pisang tersebut akan
|
|
matang dengan sendirinya ditandai dengan perubahan warna pada
kulit pisang menjadi
|
|
berwarna kuning, sedangkan pada tekstur buah akan menjadi
lebih lunak dan berasa
|
|
manis. Kondisi tersebut adalah kondisi alami, keadaan tersebut
disebabkan oleh reaksi
|
|
kimia dari dalam buah pisang itu sendiri, selain itu juga
dipengaruhi oleh kondisi
|
|
lingkungan seperti suhu yang akan memacu kematangan buah.
|
|
Pemanenan akan menyebabkan suplai yang melalui penyerapan akar terputus.
|
|
Oleh karena itu akan cepat sekali rusak, yang dapat menyebabkan
nilai gizinya
|
|
berkurang. Laju proses kerusakan akan dapat cepat atau lambat,
tergantung pada
|
|
beberapa faktor. Kadar air yang tinggi pada bahan segar dinilai
menyebabkan kerusakan
|
|
yang cepat. Kandungan air yang tinggi akan memacu proses
biologis yang dapat
|
|
meneyebabkan kerusakan seperti pada sayuran dan daging. Berbeda
dengan biji-bijian
|
|
yang dalam keadaan kering akan tahan terhadap kerusakan, bahkan
dapat disimpan
|
|
sampai lebih daripada satu tahun.
|
|
Berbagai vitamin juga akan cepat rusak setelah dipanen, terutama
vitamin C.
|
|
Vitamin A akan cepat teroksidasi, begitu pula pada vitamin E.
Vitamin D peka terhadap
|
|
oksigen dan cahaya.
|
|
Proses pengolahan itu sendiri akan dapat mengurangi nilai gizi
bila dibandingkan
|
|
dengan keadaan segar. Makin banyak tingkat pengolahan nilai gizi
akan semakin banyak
|
|
berkurang. Demikian pula kalau makin lama diolah.
|
|
Reaksi enzimatis, serta perubahan kimia dalam bahan hasil
pertanian merupakan
|
|
penyebab utama kerusakan. Mikrobia dianggap merupakan penyebab
susut utama, baik
|
|
kualitas, maupun kuantitas
bahan hasil pertanian. Kegiatan enzimatis akan berlangsung
|
|
pada kandungan air yang tinggi, serta suhu yang cocok untuk
kegiatan suatu enzim.
|
|
Reaksi kimia akan berlangsung pada kadar air yang tinggi. Faktor
suhu sangat penting
|
|
dalam menyebabkan kerusakan pangan. Sesuai dengan hukum vant’
Hoff, bahwa
|
|
kenaikan suhu 10 °C akan menyebabkan reaksi berlipat dua
kecepatannya, tetapi akibat
|
|
pengerusakannya bisa lebih, misalnya pada sayur dan
buah-buahan sampai 2,5 kali.
|
|
Berdasarkan pola pikir di atas, maka langkah awal dalam
pengawetan, yang juga
|
|
termasuk pengolahan bahan pangan hasil pertanian ialah
memanipulasi keadaan sekitar
|
|
agar tidak cocok untuk ketiga penyebab utama di atas. Untuk
dapat melakukan
|
|
pengolahan yang tepat terhadap suatu bahan pangan kita haruslah
mengetahui
|
|
karakteristik dan sifat bahan pangan itu sendiri, terutama sifat
kimia dari bahan.
|
|
Suatu contoh mengapa gula lebih cepat larut pada air panas? pada
dasarnya hal
|
|
itu disebabkan oleh sifat kelarutan padatan dalam cairan yang
akan meningkat seiring
|
|
dengan peningkatan suhu; dan itu berlaku sebaliknya. Padatan
akan semakin mudah
|
|
larut dalam pelarut yang memiliki temperatur yang lebih tinggi.
Selain karena efek
|
|
kelarutan, temperatur yang tinggi berfungsi sebagai pemasok
energi pelarutan yang
|
|
digunakan agar padatan larut dalam air. Sumber energi lain yang
biasa Anda gunakan
|
|
sehari-hari tentunya ialah energi dari tangan Anda. Contoh
tersebut sering kita jumpai
|
|
sehari-hari ketika kita membuat minuman panas dengan menambahkan
gula di
|
|
dalamnya.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar