Jumat, 17 Mei 2013

DIVERSIFIKASI PANGAN



DIVERSIFIKASI PANGAN 

 

 Penganekaragaman pangan (diversifikasi pangan) merupakan jalan keluar yang
saat ini dianggap paling rasional untuk memecahkan masalah pemenuhan kebutuhan
pangan (khususnya  sumber  karbohidrat).   Melalui  penataan  pola  makan yang tidak
tergantung pada satu sumber pangan, memungkinkan masyarakat dapat menetapkan
pangan pilihan sendiri, membangkitkan ketahanan pangan keluarga masing-masing,
yang berujung pada peningkatan ketahanan pangan nasional.


 Masalah pangan dalam negeri tidak lepas dari persoalan beras dan terigu. 
Meski di beberapa wilayah, penduduk masih mengkonsumsi pangan  alternatif gaplek,
beras jagung, sagu ataupun ubi jalar, tetapi fakta menunjukkan bahwa terigu lebih
adaptif dan adoptif daripada pangan domestik tersebut.  Gejala ini bukan saja bagi
golongan menengah ke atas, tetapi kalangan bawah  pun sudah terbiasa menyantap
mie, jajanan, roti atau kue yang semua berbasis terigu. 
Masalah diversifikasi konsumsi pangan bukan tanggung jawab sekelompok
orang saja, tetapi merupakan masalah dan tanggung jawab kita bersama sebagai warga
negara. Lantas siapa yang harus memulainya? Tentu saja jawabannya adalah keluarga
sebagai unit masyarakat terkecil. Tanpa kita sadari, sebenarnya orang yang paling besar
peranannya dalam menyukseskan program diversifikasi konsumsi pangan adalah ibu
rumah tangga. Kebiasaan memperkenalkan nasi atau bubur beras sejak bayi, lambat
laun akan menjadi pola anutan yang bersifat turun-temurun dan sulit untuk bisa diubah. 
Kebiasaan tersebut perlahan tetapi pasti akan berubah menjadi suatu budaya
bangsa. Orang merasa belum makan dan belum kenyang apabila belum makan nasi.
Budaya makan nasi telah melekat kuat di hampir seluruh masyarakat Indonesia, ke mana
pun mereka pergi. Bahkan bila berada di luar negeri sekalipun, selama masih dapat
memilih, kita akan tetap makan nasi ketimbang roti, hamburger, hotdog, pizza, dan lain-
lainnya. 
Hanya secara insidental kita menyukai makanan-makanan selain nasi. Dan celakanya hal
itu sering dianggap sebagai makanan selingan. 
Langkah awal diversifikasi konsumsi pangan adalah memperkenalkan beragam
bahan makanan sedini mungkin, yaitu sejak masa bayi dan kanak-kanak. Kita harus
menyadari bahwa Tuhan telah menciptakan beragam makanan untuk dinikmati, tanpa
membeda-bedakannya satu sama lain. Dari sudut gizi pun, Tuhan telah menciptakan
bahwa setiap bahan pangan memiliki komposisi dan jumlah zat gizi yang berbeda-beda.
Mungkin dengan maksud agar manusia kreatif untuk menggabung-gabungkannya dalam
upaya mencapai konsumsi gizi yang tepat dan seimbang.
Tidak ada satu pun di dunia ini makanan tunggal yang memiliki semua unsur gizi
yang diperlukan tubuh dalam jumlah dan komposisi gizi yang ideal. Hanya ASI (air susu
ibu) yang mempunyai komposisi gizi yang sangat lengkap, itupun hanya berlaku bagi bayi
yang berusia sampai empat bulan. Di atas usia tersebut, bayi harus sudah mulai
diperkenalkan dengan bahan makanan lain, yaitu MP-ASI (makanan pendamping air
susu ibu).


Ada dua manfaat sekaligus yang diperoleh oleh pemberian MP-ASI. Pertama
untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi yang kian meningkat jumlahnya, sehingga tidak
dapat lagi dipenuhi hanya dari ASI. Kedua, mulai melatih anak mengenal berbagai
bahan makanan sedini mungkin, sehingga nantinya anak menjadi tidak susah makan
dan tidak rewel dalam urusan makanan. Kesempatan emas inilah yang harus mampu
diisi dan dimanfaatkan dengan baik oleh para ibu, untuk memulai kegiatan diversifikasi
konsumsi pangan.
Ditinjau dari potensi sumberdaya wilayah, sumberdaya alam Indonesia memiliki
potensi ketersediaan pangan yang beragam, dari satu wilayah  ke wilayah lainnya, baik
bahan pangan sumber karbohidrat,  protein, lemak, vitamin maupun mineral.  Pangan
sumber karbohidrat biasanya berasal dari serealia, umbi-umbian,  dan buah-buahan. 
Untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi penduduk Indonesia  yang hidup dalam
lingkungan yang majemuk dan memiliki anekaragam  kebudayaan dan potensi sumber
pangan spesifik, strategi pengembangan pangan perlu diarahkan pada potensi
sumberdaya pangan wilayah. 
Untuk dapat melakukan diversifikasi pangan perlu dikuasai kemampuan
mengetahui karakteristik bahan terutama sifat-sifat kimia suatu bahan. Sehingga
mampu tercipta beberapa makanan yang beraneka ragam dan berasal dari bahan
pangan sumber yang beraneka ragam pula. Contoh : berbagai makanan yang berasal
dari sukun, ubi jalar, pisang, jagung, dll.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar