DIVERSIFIKASI PANGAN |
Penganekaragaman pangan
(diversifikasi pangan) merupakan jalan keluar yang
|
saat ini dianggap paling rasional untuk memecahkan masalah pemenuhan
kebutuhan
|
pangan (khususnya
sumber karbohidrat). Melalui
penataan pola makan yang tidak
|
tergantung pada satu sumber pangan, memungkinkan masyarakat
dapat menetapkan
|
pangan pilihan sendiri, membangkitkan ketahanan pangan keluarga
masing-masing,
|
yang berujung pada peningkatan ketahanan pangan nasional.
|
Masalah pangan dalam
negeri tidak lepas dari persoalan beras dan terigu.
|
Meski di beberapa wilayah, penduduk masih mengkonsumsi
pangan alternatif gaplek,
|
beras jagung, sagu ataupun ubi jalar, tetapi fakta menunjukkan
bahwa terigu lebih
|
adaptif dan adoptif daripada pangan domestik tersebut. Gejala ini bukan saja bagi
|
golongan menengah ke atas, tetapi kalangan bawah pun sudah terbiasa menyantap
|
mie, jajanan, roti atau kue yang semua berbasis terigu.
|
Masalah diversifikasi konsumsi pangan bukan tanggung jawab
sekelompok
|
orang saja, tetapi merupakan masalah dan tanggung jawab kita
bersama sebagai warga
|
negara. Lantas siapa yang harus memulainya? Tentu saja jawabannya
adalah keluarga
|
sebagai unit masyarakat terkecil. Tanpa kita sadari, sebenarnya
orang yang paling besar
|
peranannya dalam menyukseskan program diversifikasi konsumsi
pangan adalah ibu
|
rumah tangga. Kebiasaan memperkenalkan nasi atau bubur beras
sejak bayi, lambat
|
laun akan menjadi pola anutan yang bersifat turun-temurun dan
sulit untuk bisa diubah.
|
Kebiasaan tersebut perlahan tetapi pasti akan berubah menjadi
suatu budaya
|
bangsa. Orang merasa belum makan dan belum kenyang apabila belum
makan nasi.
|
Budaya makan nasi telah melekat kuat di hampir seluruh
masyarakat Indonesia, ke mana
|
pun mereka pergi. Bahkan bila berada di luar negeri sekalipun,
selama masih dapat
|
memilih, kita akan tetap makan nasi ketimbang roti, hamburger,
hotdog, pizza, dan lain-
|
lainnya.
|
Hanya secara insidental kita menyukai makanan-makanan selain
nasi. Dan celakanya hal
|
itu sering dianggap sebagai makanan selingan.
|
Langkah awal diversifikasi konsumsi pangan adalah memperkenalkan
beragam
|
bahan makanan sedini mungkin, yaitu sejak masa bayi dan
kanak-kanak. Kita harus
|
menyadari bahwa Tuhan telah menciptakan beragam makanan untuk
dinikmati, tanpa
|
membeda-bedakannya satu sama lain. Dari sudut gizi pun, Tuhan
telah menciptakan
|
bahwa setiap bahan pangan memiliki komposisi dan jumlah zat gizi
yang berbeda-beda.
|
Mungkin dengan maksud agar manusia kreatif untuk
menggabung-gabungkannya dalam
|
upaya mencapai konsumsi gizi yang tepat dan seimbang.
|
Tidak ada satu pun di dunia ini makanan tunggal yang memiliki
semua unsur gizi
|
yang diperlukan tubuh dalam jumlah dan komposisi gizi yang
ideal. Hanya ASI (air susu
|
ibu) yang mempunyai komposisi gizi yang sangat lengkap, itupun
hanya berlaku bagi bayi
|
yang berusia sampai empat bulan. Di atas usia tersebut, bayi
harus sudah mulai
|
diperkenalkan dengan bahan makanan lain, yaitu MP-ASI (makanan
pendamping air
|
susu ibu).
|
Ada dua manfaat sekaligus yang diperoleh oleh pemberian MP-ASI.
Pertama
|
untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi yang kian meningkat
jumlahnya, sehingga tidak
|
dapat lagi dipenuhi hanya dari ASI. Kedua, mulai melatih anak
mengenal berbagai
|
bahan makanan sedini mungkin, sehingga nantinya anak menjadi
tidak susah makan
|
dan tidak rewel dalam urusan makanan. Kesempatan emas inilah
yang harus mampu
|
diisi dan dimanfaatkan dengan baik oleh para ibu, untuk memulai
kegiatan diversifikasi
|
konsumsi pangan.
|
Ditinjau dari potensi sumberdaya wilayah, sumberdaya alam
Indonesia memiliki
|
potensi ketersediaan pangan yang beragam, dari satu wilayah ke wilayah lainnya, baik
|
bahan pangan sumber karbohidrat,
protein, lemak, vitamin maupun mineral. Pangan
|
sumber karbohidrat biasanya berasal dari serealia,
umbi-umbian, dan buah-buahan.
|
Untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi penduduk Indonesia yang hidup dalam
|
lingkungan yang majemuk dan memiliki anekaragam kebudayaan dan potensi sumber
|
pangan spesifik, strategi pengembangan pangan perlu diarahkan
pada potensi
|
sumberdaya pangan wilayah.
|
Untuk dapat melakukan diversifikasi pangan perlu dikuasai
kemampuan
|
mengetahui karakteristik bahan terutama sifat-sifat kimia suatu
bahan. Sehingga
|
mampu tercipta beberapa makanan yang beraneka ragam dan berasal
dari bahan
|
pangan sumber yang beraneka ragam pula. Contoh : berbagai
makanan yang berasal
|
dari sukun, ubi jalar, pisang, jagung, dll.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar